BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG
Dalam pelajaran sejarah kelas XI, kita belajar tentang
kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha yang pernah berdiri di Indonesia. Salah satunya
adalah kerajaan Sriwijaya yang merupakan salah satu dari kerajaan Hindu-Buddha
yang memiliki wilayah kekuasaan yang sangat luas. Kerajaan ini juga berhasil
menguasai perairan di jalur perdagangan Negara barat dan timur.
Untuk lebih jelasnya, kami membuat makalah ini denan tujuan agar pembaca dapat mengetahui tentang kerajaan Sriwijaya sehingga pembaca dapat memahami dan mengetahui salah satu kerajaan yang begitu tersohor karena kehebatannya itu.
Untuk lebih jelasnya, kami membuat makalah ini denan tujuan agar pembaca dapat mengetahui tentang kerajaan Sriwijaya sehingga pembaca dapat memahami dan mengetahui salah satu kerajaan yang begitu tersohor karena kehebatannya itu.
B. RUMUSAN
MASALAH
1. Dimana
lokasi kerajaan Sriwijaya?
2. Siapa
pendiri kerajaan Sriwijaya?
3. Siapa
saja raja yang pernah memerintahkan Kerajaan Sriwijaya?
4. Bagaimana
kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya
masyarakat wilayah Kearjaan
Sriwijaya?
5. Apa
saja peninggalan kebudayaan Kerajaan Sriwijaya dan bagaimana kondisi kebudaayan
tersebut pada saat ini?
6. Apa
saja faktor yang mempengaruhi kemunduran Kerajaan Sriwijaya?
C. TUJUAN
Maksud dari pembuatan makalah ini adalah
untuk memenuhi tugas bidang studi Geografi tentang Kerajaan Sriwijaya pada masa
lalu. Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :
1. Untuk menambah wawasan tentang
Kerajaan Sriwijaya.
2. Untuk membahas tentang kerajaan
Sriwijaya.
3. Untuk berbagi pengetahuan tentang
pendiri beserta raja- raja yang pernah memerintah.
4. Untuk mengetahui kehidupan sosial,
budaya,dan ekonomi masyarakat di wilayah
kerajaan Sriwijaya.
5. Untuk
mengetahui faktor penyebab kemundurannya Kerajaan Sriwijaya.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. DESKRIPSI
LOKASI
· Peta
lokasi

Secara geografis, Palembang terletak pada
2°59′27.99″LS 104°45′24.24″BT. Letak Palembang cukup strategis karena dilalui
oleh jalan Lintas Sumatera yang menghubungkan antar daerah di Pulau Sumatera.
Selain itu di Palembang juga terdapat Sungai Musi
yang dilintasi Jembatan Ampera
dan berfungsi sebagai sarana transportasi dan perdagangan antar wilayah.
B. ISI
1. RAJA-RAJA
a) Pendiri
Dapunta
Hyang Sri Jayanasa adalah
maharaja Sriwijaya pertama yang dianggap sebagai pendiri Kadatuan Sriwijaya.
b) Raja
– raja yang memerintah Kerajaan Sriwijaya
1)
Dapunta Hyan
Srijayanasa (terdapat dalam Prasasti Kedukan Bukit tahun 683 Masehi dan
Prasasti Talang Tuwo tahun 684 Masehi)
2)
Sri Indrawarman
(terdapat dalam Berita Cina tahun 724 Masehi)
3)
Rudrawikrama (terdapat
dalam Berita Cina tahun 728 Masehi)
4)
Wishnu (terdapat dalam
Prasasti Ligor tahun 775 Masehi)
5)
Maharaja (terdapat
dalam Berita Arab tahun 851 Masehi)
6)
Balaputera Dewa
(terdapat dalam Prasasti Nalanda tahun 860 Masehi)
7)
Sri Udayadityawarman
(terdapat dalam Berita Cina tahun 960 Masehi)
8)
Sri Udayaditya
(terdapat dalam Berita Cina tahun 962 Masehi)
9)
Sri Sudamaniwarmadewa
(terdapat dalam Prasasti Leiden tahun 1044 Masehi)
10) Marawijayatunggawarman
(terdapat dalam Prasasti Leiden tahun 1044 Masehi)
11) Sri
Sanggaramawijayatunggawarman (terdapat dalam Prasasti Chola tahun 1044 Masehi)
2.
Keadaan dalam kehidupan
sosial, ekonomi dan budaya masyarakat wilayah Kerajaan Sriwijaya
a)
Sosial
Kerajaan
Sriwijaya karena letaknya yang strategis dalam lalu lintas perdagangan
internasional menyebabkan masyarakatnya lebih terbuka dalam menerima berbagai
pengaruh asing. Masyarakat Sriwijaya juga telah mampu mengembangkan bahasa
komunikasi dalam dunia perdagangannya. Kemungkinan bahasa Melayu Kuno telah
digunakan sebagai bahasa pengantar terutama dengan para pedagang dari Jawa
Barat, Bangka, Jambi dan Semenanjung Malaysia.
Penduduk Sriwijaya juga bersifat terbuka dalam menerima berbagai kebudayaan yang datang. Salah satunya adalah mengadopsi kebudayaan India, seperti nama-nama India, adat-istiadat, serta tradisi dalam Agama Hindu. Oleh karena itu, Sriwijaya pernah menjadi pusat pengembangan ajaran Buddha di Asia Tenggara.
Penduduk Sriwijaya juga bersifat terbuka dalam menerima berbagai kebudayaan yang datang. Salah satunya adalah mengadopsi kebudayaan India, seperti nama-nama India, adat-istiadat, serta tradisi dalam Agama Hindu. Oleh karena itu, Sriwijaya pernah menjadi pusat pengembangan ajaran Buddha di Asia Tenggara.
b)
Ekonomi
Dilihat
dari letak geografis, daerah Kerajaan Sriwijaya mempunyai letak yang sangat
strategis, yaitu di tengah-tengah jalur pelayaran perdagangan antara India dan
Cina. Di samping itu, letak Kerajaan Sriwijaya dekat dengan Selat Malak yang
merupakan urat nadi perhubungan bagi daerah-daerah di Asia Tenggara.
Hasil bumi Kerajaan Sriwijaya merupakan modal utama bagi masyarakatnya untuk terjun dalam aktifitas pelayaran dan perdagangan.
Hasil bumi Kerajaan Sriwijaya merupakan modal utama bagi masyarakatnya untuk terjun dalam aktifitas pelayaran dan perdagangan.
c)
Kebudayaan
1. Prasasti
Ligor
Prasasti Ligor merupakan prasasti yang
terdapat di Ligor (sekarang Nakhon Si Thammarat, selatan Thailand). Prasasti
ini merupakan pahatan ditulis pada dua sisi, bagian pertama disebut prasasti
Ligor A atau dikenal juga dengan nama manuskrip Viang Sa sedangkan di bagian lainnya
disebut dengan prasasti Ligor B.
Isi :
Dari manuskrip Ligor A ini berisikan
berita tentang raja Sriwijaya, raja dari segala raja yang ada di dunia, yang
mendirikan Trisamaya caitya untuk Kajara.[2] Sedangkan dari manuskrip Ligor B
berangka tahun 775, berisikan berita tentang nama Visnu yang bergelar Sri
Maharaja, dari keluarga Śailendravamśa serta dijuluki dengan
Śesavvārimadavimathana (pembunuh musuh-musuh yang sombong tidak bersisa).
2. Prasasti
Palas Pasemah
Prasasti
Palas Pasemah, prasasti pada batu, ditemukan di Palas Pasemah, di tepi Way
(Sungai) Pisang, Lampung. Ditulis dengan aksara Pallawa dan bahasa
Melayu Kuna sebanyak 13 baris. Meskipun
tidak berangka tahun, namun dari bentuk aksaranya diperkirakan prasasti itu
berasal dari akhir abad ke-7 Masehi.
Isi :
Isinya
mengenai kutukan bagi orang-orang yang tidak tunduk kepada Sriwijaya.
3. Prasasti
Leiden
Prasasti
Leiden merupakan manuskrip yang ditulis pada lempengan tembaga berangka tahun
1005 yang terdiri dari bahasa Sanskerta dan bahasa Tamil. Prasasti ini
dinamakan sesuai dengan tempat berada sekarang yaitu pada KITLV Leiden,
Belanda.
Isi :
Prasasti
ini memperlihatkan hubungan antara dinasti Sailendra dari Sriwijaya dengan
dinasti Chola dari Tamil, selatan India.
4. Prasasti
Kota Kapur
Prasasti
ini ditemukan di pesisir barat Pulau Bangka. Prasasti ini dinamakan menurut
tempat penemuannya yaitu sebuah dusun kecil yang bernama "Kotakapur".
Tulisan pada prasasti ini ditulis dalam aksara Pallawa dan menggunakan bahasa
Melayu Kuna, serta merupakan salah satu dokumen tertulis tertua berbahasa
Melayu. Prasasti ini ditemukan oleh J.K. van der
Meulen pada bulan Desember 1892.
Isi :
Prasasti
Kota Kapur adalah salah satu dari lima buah batu
prasasti kutukan yang dibuat oleh Dapunta Hiyaŋ, seorang penguasa dari Kadātuan
Śrīwijaya.
5. Prasasti Kedukan Bukit
Prasasti
Kedukan Bukit ditemukan oleh M. Batenburg pada tanggal 29 November 1920 di
Kampung Kedukan Bukit, Kelurahan 35 Ilir, Palembang,Sumatera Selatan, di tepi
Sungai Tatang yang mengalir ke Sungai Musi. Prasasti ini berbentuk batu kecil
berukuran 45 × 80 cm, ditulis dalam aksara Pallawa, menggunakan bahasa Melayu
Kuna. Prasasti ini sekarang disimpan di Museum Nasional Indonesia.
Isi :
Menyatakan
bahwa Dapunta Hyang mengada- kan perjalanan suci (sidhayarta) dengan perahu dan
membawa 2.000 orang. Dalam perjalanan tersebut, ia berhasil menaklukkan
beberapa daerah.
6. Prasasti
Hujung Langit
Prasasti
Hujung Langit, yang dikenal juga dengan nama Prasasti Bawang, adalah sebuah
prasasti batu yang ditemukan di desa Haur Kuning, Lampung, Indonesia. Aksara
yang digunakan di prasasti ini adalah Pallawa dengan bahasa Melayu Kuna.
Tulisan pada prasasti ini sudah sangat aus, namun masih teridentifikasi angka
tahunnya 919 Saka atau 997 Masehi.
Isi :
Isi
prasasti diperkirakan merupakan pemberian tanah sima.
7.
Prasasti Talang Tuwo
Prasasti
Talang Tuwo ditemukan oleh Louis Constant Westenenk (residen Palembang
kontemporer) pada tanggal 17 November 1920 di kaki Bukit Seguntang,
Isi :
Isi prasasti Talang Tuo adalah berupa
doa-doa dedikasi, dimana hingga kini, doa-doa demikian masih dijalankan dan
diyakini. Prasasti ini memperkuat bahwa terdapat pengaruh yang kuat dari cara
pandang Mahayana pada masa tersebut, dengan ditemukannya kata-kata seperti
bodhicitta, mahasattva, vajrasarira, danannuttarabhisamyaksamvodhi, dimana
istilah-istilah bahasa Sanskerta tersebut memang digunakan secara umum dalam
ajaran Mahayana.
8.
Prasasti Telaga Batu
Prasasti Telaga Batu 1 ditemukan di
sekitar kolam Telaga Biru (tidak jauh dari Sabokingking), Kel. 3 Ilir, Kec.
Ilir Timur II, Kota Palembang, Sumatera Selatan, pada tahun 1935. Prasasti ini
sekarang disimpan di Museum Nasional dengan No. D.155. Di sekitar lokasi
penemuan prasasti ini juga ditemukan prasasti Telaga Batu 2, yang berisi
tentang keberadaan suatu vihara di sekitar prasasti. Pada tahun-tahun
sebelumnya ditemukan lebih dari 30 buah prasasti Siddhayatra. Bersama-sama
dengan Prasasti Telaga Batu, prasasti-prasasti tersebut kini disimpan di Museum
Nasional, Jakarta.
Isi :
Isinya
tentang kutukan terhadap siapa saja yang melakukan kejahatan di kedatuan
Sriwijaya dan tidak taat kepada perintah dātu. Casparis berpendapat bahwa
orang-orang yang disebut pada prasasti ini merupakan orang-orang yang
berkategori berbahaya dan berpotensi untuk melawan kepada kedatuan Sriwijaya
sehingga perlu disumpah.
9.
Prasasti Karang Birahi
Prasasti Karang Brahi adalah sebuah
prasasti dari zaman kerajaan Sriwijaya yang ditemukan pada tahun 1904 oleh
Kontrolir L.M. Berkhout di tepian Batang Merangin. Prasasti ini terletak pada
Dusun Batu Bersurat, Desa Karang Berahi, Kecamatan Pamenang, Kabupaten
Merangin, Jambi.
Isi :
Isinya tentang kutukan bagi orang yang tidak
tunduk atau setia kepada raja dan orang-orang yang berbuat jahat. Kutukan pada
isi prasasti ini mirip dengan yang terdapat pada Prasasti Kota Kapur dan
Prasasti Telaga Batu.
·
Kondisi
Sekarang
Kondisi sekarang ini pada Candi adalah
Candi-candi tersebut masih dalam keadaan cukup baik dan beberapa diantaranya
dijadikan sebagai tempat wisata.
Sedangkan prasastinya juga masih dalam
keadaan yang cukup baik dan juga disimpan di Museum Nasional di Jakarta sebagai
bukti sejarah peninggalan kerajaan Sriwijaya tersebut.







Tidak ada komentar:
Posting Komentar