Rabu, 18 Juni 2014

Kerajaan Sriwijaya



BAB I
PENDAHULUAN


A.   LATAR BELAKANG
     Dalam pelajaran sejarah kelas XI, kita belajar tentang kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha yang pernah berdiri di Indonesia. Salah satunya adalah kerajaan Sriwijaya yang merupakan salah satu dari kerajaan Hindu-Buddha yang memiliki wilayah kekuasaan yang sangat luas. Kerajaan ini juga berhasil menguasai perairan di jalur perdagangan Negara barat dan timur.
        Untuk lebih jelasnya, kami membuat makalah ini denan tujuan agar pembaca dapat mengetahui tentang kerajaan Sriwijaya sehingga pembaca dapat memahami dan mengetahui salah satu kerajaan yang begitu tersohor karena kehebatannya itu.

B.   RUMUSAN MASALAH
1.     Dimana lokasi kerajaan Sriwijaya?
2.     Siapa pendiri kerajaan Sriwijaya?
3.     Siapa saja raja yang pernah memerintahkan Kerajaan Sriwijaya?
4.     Bagaimana kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya  masyarakat wilayah     Kearjaan Sriwijaya?
5.     Apa saja peninggalan kebudayaan Kerajaan Sriwijaya dan bagaimana kondisi kebudaayan tersebut pada saat ini?
6.     Apa saja faktor yang mempengaruhi kemunduran Kerajaan Sriwijaya?

C.   TUJUAN
      Maksud dari pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas bidang studi Geografi tentang Kerajaan Sriwijaya pada masa lalu. Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :
1.   Untuk menambah wawasan tentang Kerajaan Sriwijaya.
2.   Untuk membahas tentang kerajaan Sriwijaya.
3.   Untuk berbagi pengetahuan tentang pendiri beserta raja- raja yang pernah   memerintah.
4.   Untuk mengetahui kehidupan sosial, budaya,dan ekonomi masyarakat di    wilayah kerajaan  Sriwijaya.
5.   Untuk mengetahui faktor penyebab kemundurannya Kerajaan Sriwijaya.




BAB II
PEMBAHASAN

A.   DESKRIPSI LOKASI
·     Peta lokasi

     

      Secara geografis, Palembang terletak pada 2°59′27.99″LS 104°45′24.24″BT. Letak Palembang cukup strategis karena dilalui oleh jalan Lintas Sumatera yang menghubungkan antar daerah di Pulau Sumatera. Selain itu di Palembang juga terdapat Sungai Musi yang dilintasi Jembatan Ampera dan berfungsi sebagai sarana transportasi dan perdagangan antar wilayah.

B.     ISI
1.      RAJA-RAJA
a)   Pendiri
        Dapunta Hyang Sri Jayanasa adalah maharaja Sriwijaya pertama yang dianggap sebagai pendiri Kadatuan Sriwijaya.

b)   Raja – raja yang memerintah Kerajaan Sriwijaya
1)        Dapunta Hyan Srijayanasa (terdapat dalam Prasasti Kedukan Bukit tahun 683 Masehi dan Prasasti Talang Tuwo tahun 684 Masehi)
2)        Sri Indrawarman (terdapat dalam Berita Cina tahun 724 Masehi)
3)        Rudrawikrama (terdapat dalam Berita Cina tahun 728 Masehi)
4)        Wishnu (terdapat dalam Prasasti Ligor tahun 775 Masehi)
5)        Maharaja (terdapat dalam Berita Arab tahun 851 Masehi)
6)        Balaputera Dewa (terdapat dalam Prasasti Nalanda tahun 860 Masehi)
7)        Sri Udayadityawarman (terdapat dalam Berita Cina tahun 960 Masehi)
8)        Sri Udayaditya (terdapat dalam Berita Cina tahun 962 Masehi)
9)        Sri Sudamaniwarmadewa (terdapat dalam Prasasti Leiden tahun 1044 Masehi)
10)    Marawijayatunggawarman (terdapat dalam Prasasti Leiden tahun 1044 Masehi)
11)    Sri Sanggaramawijayatunggawarman (terdapat dalam Prasasti Chola tahun 1044 Masehi)

2.         Keadaan dalam kehidupan sosial, ekonomi dan budaya masyarakat wilayah Kerajaan Sriwijaya
a)         Sosial
             Kerajaan Sriwijaya karena letaknya yang strategis dalam lalu lintas perdagangan internasional menyebabkan masyarakatnya lebih terbuka dalam menerima berbagai pengaruh asing. Masyarakat Sriwijaya juga telah mampu mengembangkan bahasa komunikasi dalam dunia perdagangannya. Kemungkinan bahasa Melayu Kuno telah digunakan sebagai bahasa pengantar terutama dengan para pedagang dari Jawa Barat, Bangka, Jambi dan Semenanjung Malaysia.
                 Penduduk Sriwijaya juga bersifat terbuka dalam menerima berbagai kebudayaan yang datang. Salah satunya adalah mengadopsi kebudayaan India, seperti nama-nama India, adat-istiadat, serta tradisi dalam Agama Hindu. Oleh karena itu, Sriwijaya pernah menjadi pusat pengembangan ajaran Buddha di Asia Tenggara.

b)        Ekonomi
             Dilihat dari letak geografis, daerah Kerajaan Sriwijaya mempunyai letak yang sangat strategis, yaitu di tengah-tengah jalur pelayaran perdagangan antara India dan Cina. Di samping itu, letak Kerajaan Sriwijaya dekat dengan Selat Malak yang merupakan urat nadi perhubungan bagi daerah-daerah di Asia Tenggara.
                 Hasil bumi Kerajaan Sriwijaya merupakan modal utama bagi masyarakatnya untuk terjun dalam aktifitas pelayaran dan perdagangan.

c)         Kebudayaan
1.      Prasasti Ligor
       Prasasti Ligor merupakan prasasti yang terdapat di Ligor (sekarang Nakhon Si Thammarat, selatan Thailand). Prasasti ini merupakan pahatan ditulis pada dua sisi, bagian pertama disebut prasasti Ligor A atau dikenal juga dengan nama manuskrip Viang Sa sedangkan di bagian lainnya disebut dengan prasasti Ligor B.
Isi   :
       Dari manuskrip Ligor A ini berisikan berita tentang raja Sriwijaya, raja dari segala raja yang ada di dunia, yang mendirikan Trisamaya caitya untuk Kajara.[2] Sedangkan dari manuskrip Ligor B berangka tahun 775, berisikan berita tentang nama Visnu yang bergelar Sri Maharaja, dari keluarga Śailendravamśa serta dijuluki dengan Śesavvārimadavimathana (pembunuh musuh-musuh yang sombong tidak bersisa).

2.      Prasasti Palas Pasemah
                        http://2.bp.blogspot.com/-XKtrv6hnKc4/UWo-C26p5EI/AAAAAAAAGmY/Viv-GukEWRM/s320/palas-pasemah.jpg

       Prasasti Palas Pasemah, prasasti pada batu, ditemukan di Palas Pasemah, di tepi Way (Sungai) Pisang, Lampung. Ditulis dengan aksara Pallawa dan bahasa Melayu Kuna sebanyak 13 baris.            Meskipun tidak berangka tahun, namun dari bentuk aksaranya diperkirakan prasasti itu berasal dari akhir abad ke-7 Masehi.
Isi 
      Isinya mengenai kutukan bagi orang-orang yang tidak tunduk kepada Sriwijaya.

3.      Prasasti Leiden
       Prasasti Leiden merupakan manuskrip yang ditulis pada lempengan tembaga berangka tahun 1005 yang terdiri dari bahasa Sanskerta dan bahasa Tamil. Prasasti ini dinamakan sesuai dengan tempat berada sekarang yaitu pada KITLV Leiden, Belanda.
Isi   :
       Prasasti ini memperlihatkan hubungan antara dinasti Sailendra dari Sriwijaya dengan dinasti Chola dari Tamil, selatan India.

4.      Prasasti Kota Kapur
http://1.bp.blogspot.com/-9KcQYZ666r8/UWo8y5BQOXI/AAAAAAAAGmM/lMcPPZt594g/s400/136px-Prasasti_Kota_Kapur.jpg
        Prasasti ini ditemukan di pesisir barat Pulau Bangka. Prasasti ini dinamakan menurut tempat penemuannya yaitu sebuah dusun kecil yang bernama "Kotakapur". Tulisan pada prasasti ini ditulis dalam aksara Pallawa dan menggunakan bahasa Melayu Kuna, serta merupakan salah satu dokumen tertulis tertua berbahasa Melayu. Prasasti ini ditemukan oleh J.K. van der Meulen pada bulan Desember 1892.
Isi  :
 Prasasti Kota Kapur adalah salah satu dari lima buah batu prasasti kutukan yang dibuat oleh Dapunta Hiyaŋ, seorang penguasa dari Kadātuan Śrīwijaya.

5.       Prasasti Kedukan Bukit
      http://4.bp.blogspot.com/-3ShYT67ZvIw/UWo8lieR8-I/AAAAAAAAGmE/Z_U7Y5llx8M/s400/Pr_KB.jpg
      Prasasti Kedukan Bukit ditemukan oleh M. Batenburg pada tanggal 29 November 1920 di Kampung Kedukan Bukit, Kelurahan 35 Ilir, Palembang,Sumatera Selatan, di tepi Sungai Tatang yang mengalir ke Sungai Musi. Prasasti ini berbentuk batu kecil berukuran 45 × 80 cm, ditulis dalam aksara Pallawa, menggunakan bahasa Melayu Kuna. Prasasti ini sekarang disimpan di Museum Nasional Indonesia.
Isi  :
       Menyatakan bahwa Dapunta Hyang mengada- kan perjalanan suci (sidhayarta) dengan perahu dan membawa 2.000 orang. Dalam perjalanan tersebut, ia berhasil menaklukkan beberapa daerah. 

6.      Prasasti Hujung Langit

            http://2.bp.blogspot.com/-lcyfQwgBpyQ/UWpAbaUms_I/AAAAAAAAGms/e5EhXMtMXGs/s400/hujunglangit.jpg

             Prasasti Hujung Langit, yang dikenal juga dengan nama Prasasti Bawang, adalah sebuah prasasti batu yang ditemukan di desa Haur Kuning, Lampung, Indonesia. Aksara yang digunakan di prasasti ini adalah Pallawa dengan bahasa Melayu Kuna. Tulisan pada prasasti ini sudah sangat aus, namun masih teridentifikasi angka tahunnya 919 Saka atau 997 Masehi. 
Isi  :
            Isi prasasti diperkirakan merupakan pemberian tanah sima.

7.        Prasasti Talang Tuwo

                        http://2.bp.blogspot.com/-58jpNOQ6p1w/UWo8PWhdooI/AAAAAAAAGl8/DB7prGb3l4w/s400/631px-Talang_Tuo_Inscription.jpg

      Prasasti Talang Tuwo ditemukan oleh Louis Constant Westenenk (residen Palembang kontemporer) pada tanggal 17 November 1920 di kaki Bukit Seguntang, 
Isi  :
      Isi prasasti Talang Tuo adalah berupa doa-doa dedikasi, dimana hingga kini, doa-doa demikian masih dijalankan dan diyakini. Prasasti ini memperkuat bahwa terdapat pengaruh yang kuat dari cara pandang Mahayana pada masa tersebut, dengan ditemukannya kata-kata seperti bodhicitta, mahasattva, vajrasarira, danannuttarabhisamyaksamvodhi, dimana istilah-istilah bahasa Sanskerta tersebut memang digunakan secara umum dalam ajaran Mahayana.

8.        Prasasti Telaga Batu
                        http://2.bp.blogspot.com/-I8iYmF-7KAA/UWo8GpIvlfI/AAAAAAAAGl0/0q_nSgiJqzQ/s320/552px-Telaga_Batu_inscription.JPG

        Prasasti Telaga Batu 1 ditemukan di sekitar kolam Telaga Biru (tidak jauh dari Sabokingking), Kel. 3 Ilir, Kec. Ilir Timur II, Kota Palembang, Sumatera Selatan, pada tahun 1935. Prasasti ini sekarang disimpan di Museum Nasional dengan No. D.155. Di sekitar lokasi penemuan prasasti ini juga ditemukan prasasti Telaga Batu 2, yang berisi tentang keberadaan suatu vihara di sekitar prasasti. Pada tahun-tahun sebelumnya ditemukan lebih dari 30 buah prasasti Siddhayatra. Bersama-sama dengan Prasasti Telaga Batu, prasasti-prasasti tersebut kini disimpan di Museum Nasional, Jakarta.
Isi  :
      Isinya tentang kutukan terhadap siapa saja yang melakukan kejahatan di kedatuan Sriwijaya dan tidak taat kepada perintah dātu. Casparis berpendapat bahwa orang-orang yang disebut pada prasasti ini merupakan orang-orang yang berkategori berbahaya dan berpotensi untuk melawan kepada kedatuan Sriwijaya sehingga perlu disumpah.

9.        Prasasti Karang Birahi
                   http://2.bp.blogspot.com/-WNMKMHMELKI/UWpA-gnaR1I/AAAAAAAAGm0/FeOVm2I_ZGU/s400/prasasti-karang-birahi-1.jpg

     Prasasti Karang Brahi adalah sebuah prasasti dari zaman kerajaan Sriwijaya yang ditemukan pada tahun 1904 oleh Kontrolir L.M. Berkhout di tepian Batang Merangin. Prasasti ini terletak pada Dusun Batu Bersurat, Desa Karang Berahi, Kecamatan Pamenang, Kabupaten Merangin, Jambi.
Isi  :
    Isinya tentang kutukan bagi orang yang tidak tunduk atau setia kepada raja dan orang-orang yang berbuat jahat. Kutukan pada isi prasasti ini mirip dengan yang terdapat pada Prasasti Kota Kapur dan Prasasti Telaga Batu.

·           Kondisi Sekarang
    Kondisi sekarang ini pada Candi adalah Candi-candi tersebut masih dalam keadaan cukup baik dan beberapa diantaranya dijadikan sebagai tempat wisata.
    Sedangkan prasastinya juga masih dalam keadaan yang cukup baik dan juga disimpan di Museum Nasional di Jakarta sebagai bukti sejarah peninggalan kerajaan Sriwijaya tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar